Senin, 17 Januari 2011

cerita kelelahan saya (tidak begitu penting)

 lama tidak bercurah di sini...
banyak hal buat saya mau muntah dan meledakkan kepala akhir-akhir ini...
tak banyak yang saya bisa selain menulis...

sudah hampir terbilang dua tahun ini saya sial...
lebih halus kalo saya bilang tidak beruntung...
saya sedang jenuh...
jenuh untuk sesuatu yang tidak pasti...
saya memang seorang pemimpi...
terlalu banyak bermimpi membuat saya mematok sesuatu terlalu sempurna...
sampai saya tak lihat ketidak sempurnaan saya sendiri...
saya impikan hubungan percintaan yang sederhana dan bahagia...
tapi rupanya sayalah yang membuat itu jadi tidak sederhana...
ketakutan saya besar...
kehilangan dan rasa kecewa yang saya alami bertubi-tubi membuat saya jenuh untuk mengulanginya lagi...
bahkan sempat membuat saya kacau...
sendiri membuat saya merasa tidak nyaman...
bukan...
bukan karena teman-teman saya sudah punya pacar...
tapi lebih kepada seperti keberadaan saya sebagai perempuan tidak terlalu diperhitungkan lawan jenis saya...
dengan bodohnya beberapa kali saya minta dijodohkan...
bodoh ya?
memang...
tapi ketika seseorang sudah mulai dekat dan saya merasa nyaman, justru itu semua berubah...
ketakutan akan kehilangan dan rasa kecewa justru membuat saya jatuh...
pilihannya, saya akan terlalu posesif atau justru mundur teratur...
jika saya posesif, kenyataan yang ada adalah mereka takut dan mundur...
bahkan cara mundurnya pun terkadang sangat tidak menyenangkan...
menghilang...
seketika...
membuat saya bingung dan sakit...
bodoh?
ya, lagi-lagi saya bertindak bodoh...
terkadang saya bosan sekali sakit atau menangis kecewa...
tidak, tidak kecewa pada mereka,,tapi pada diri sendiri...
bagaimana tidak?
bahkan saya tak mampu belajar dari apa yang sudah saya lalui...
Tuhan sudah sedemikian rupa memberi saya pengalaman dan pembelajaran...
tapi saya masih saja bodoh tidak bisa mengambil hikmah dari pengalaman yang diberikan Tuhan...
bahkan sampai detik ini...
masih saja membuat saya bingung, lebih baik jadi diri sendiri atau ikut apa yang pasangan saya mau...
meski sudah saya coba keduanya, masih saja keberadaan saya tidak diterima...
ya, rasanya saya benar-benar lelah...
terlalu merepotkan memikirkan masalah yang ini...
terlalu menyita pikiran padahal hal ini rasanya tidak lebih penting daripada masalah seperti:
1. saya nanti kerja di mana?
2. lulus dengan ipk berapa?
3. nanti saya lulusnya kapan?atau
4. judul skripsi saya apa ya?

lalulah saya ceritakan sedikit kesialan saya seputar cinta ini...
biar sial saya juga mampir ke yang suka baca blog aneh ini...
hahahahaha...

sudah lebih baik sekarang...
Tuhan selalu adil dan menepati janji...
lalulah saya selalu segera dipisahkan dengan laki-laki yang mungkin memang bukan jodoh saya...
*walau kadang saya rasa Tuhan terlalu cepat menepati janjinya...
:P

**dulu saya pernah berdoa begini :"Tuhan,,jika memang lelaki yang dekat dengan saya itu memang berjodoh, dekatkanlah kami, smoga dia memang orang yang bisa membawa saya menjadi lebih baik...tapi jika dia bukan jodoh saya, atau mungkin nantinya akan membawa saya lebih jauh dariMu, maka jauhkanlah kami sesegera mungkin dengan cara yang baik..."
ya,,mungkin caranya saja yang sampai sekarang belum ada yang 'baik'...
:P

HUAH!!!
semua akan segera baik-baik saja seperti biasanya!
semangat!!!
(^o^)v

Minggu, 02 Januari 2011

Yu Jin dan Kasih yang Tak Tersampaikan

Yu Jin hanya seorang gadis muda, mahasiswa universitas swasta. Selama hidupnya, belum pernah iya mengagumi seseorang dengan sangat. Gadis pecinta komik ini hanya sering terlarut dalam kisah cinta dalam komik namun selalu gagal dalam kisah cinta di kehidupan nyatanya.
Siang itu sebuah restoran masakan Jepang yang baru saja buka menarik perhatiannya. Yu Jin untuk pertama kalinya bertandang. Koki di hari itupun benar-benar menarik perhatiannya. Rasanya seperti berada dalam komik, Yu Jin seperti melihat seorang chef tampan rupawan dalam komik yang sedang serius memasak, menambah ketampanannya.
Ya, rasanya seperti dalam komik, Yu Jin hanya mampu mengagumi koki itu. Hanya bisa senang melihat koki itu, bahkan namanya pun dia tak tahu. Yu Jin hanya tau koki itu sering dipanggil Oppa. Rasanya benar-benar seperti di dalam komik mendengarnya dipanggil Oppa begitu.
Tapi Yu Jin bodoh, Oppa tampan mana yang tidak punya pacar? Bahkan gosipnya wanita muda cantik yang sering datang menemani koki itu adalah istri sahnya. Bahkan Yu Jin pernah dikagetkan dengan anak kecil yang menghampiri Oppa dan wanitanya itu dengan memanggil Papa dan Mama. Anak merekakah?
Mi Ju, adik Yu Jin bahkan sering kali mengusili Yu Jin kalau Oppa sedang bersama wanitanya itu. sampai-sampai Yu Jin terkadang gengsi mengakui bahwa cemburu itu ada. Bahwa Yu Jin benar-benar jatuh hati kepada Oppa.
Apapun itu, yang bisa dilakukan Yu Jin hanyalah melihat dari kejauhan. Menikmati indahnya senyuman Oppa, meski belum sekalipun senyum itu ditujukan untuk Yu Jin. Sampai detik terakhir, sapaan Yu Jin pun belum sampai pada Oppa. Tak akan bisa lagi.
Kenyataan memang haruslah dihadapi. Pergantian tahun sudah berlalu beberapa jam. Di saat itulah justru Yu Jin hanya bisa terdiam lemas. Berita dari Mi Ju mengagetkannya. Oppa sudah tak ada lagi. Oppa kecelakaan motor. bahkan itu sudah terjadi setelah Natal kemarin. Seminggu sebelumnya. Bahkan Yu Jin tak tahu apa-apa. berita yang datang terlambat itu menhentikan sejenak nafas Yu Jin.
Oppa yang disukainya sudah pergi. Oppa sudah tak bisa tersenyum di dapur itu. Dan Yu Jin sudah tak bisa mengutarakan apapun. Bilang kagum atau sayang sekalipun. Yu Jin bahkan tak bisa menangis seharian. hari berikutnya justru Yu Jin tak tahu bagaimana caranya berhenti menangis ketika Oppa muncul lagi dalam ingatannya.
Restoran Jepang itu akan selalu menjadi tempat berharga bagi Yu Jin untuk mengenang orang pertama yang benar-benar ia kagumi. Mengenang Oppa. Seorang koki istimewa yang selalu membuat Yu Jin jatuh hati ketika ia serius membuat sushi kesukaan Yu Jin.