Selasa, 17 April 2012

Pria yang paling aku cintai di dunia, hadiah Tuhan

sosok laki laki separuh baya yang sering kusapa Papih itu bukanlah sosok ayah yang sempurna.


seorang yang keras kepala
seorang yang terkadang semaunya sendiri
terkadang bersikap lembut
namun terkadang sangat mengesalkan
jarang ada dalam memoriku semasa kecil karena tak akrab
ah, bukan tak ada memori tentangnya
hanya saja bukan memori sebagai ayah, tetapi sebagai sahabat atau kakak laki lakiku

seorang yang terlihat mementingkan orang lain daripada keluarga intinya
ya meskipun materi tak kekurangan ia mengalirkannya padaku
namun sosok ke-ayah-annya memang sedikit kurang daripada ayah lain di luar sana
berkali aku dibuatnya emosi
hidupku dibawa ke dalam drama hidup yang dibuatnya sendiri
terkadang aku berharap punya ayah yang lebih baik dari padanya.



ahahahaha
seketika kemudian aku menyesali harapanku
Papih
satu satunya ayah yang aku tau mengabaikan anaknya karena ingin aku mandiri
membebaskanku melakukan apapun untuk belajar tanggung jawab
tak secara instan mengabulkan inginku untuk aku belajar sabar
tak sepenuhnya membantuku untuk aku belajar berusaha
tak selalu muncul untuk aku belajar tak selamanya dia ada untukku
tak selalu menghubungiku untuk mengajarkan aku tentang rindu
tak selalu mendukung cita cita konyolku untuk aku belajar untuk lebih serius bertahan hidup
tak mengasihaniku di saat sakitku agar aku belajar untuk tidak cengeng dan bergantung
memukulku dengan sisir besar kesayangan Mamih agar aku belajar kuat dan tak lemah


di hari yang lain aku melihatnya
pulang dengan tas kerjanya, kemeja yang masih saja rapih
wajahnya lelah
tak terlihat drama di sana
yang terlihat adalah kerutan di wajahnya
dia sudah menua
tak lagi kuat beradu otot dan urat denganku
tak lagi kuat beradu emosi denganku

sosoknya yang terduduk lemah di ruang tengah
menghembuskan nafas berkali-kali
tekanan yang kuberikan, pekerjaan yang memberatkannya, seakan dia ingin istirahat
tapi dia tidak lari
dia memang bukan laki laki yang romantis dan penuh kata kata manis
tapi dia selalu berhasil menenangkanku hanya dengan pelukan dan tanpa kata kata


aku benci mendengar pujian terhadapnya
seolah dia adalah ayah yang sempurna
padahal tidak sama sekali
seolah aku beruntung memiliki ayah yang perhatian seperti dia
padahal dia adalah ayah dari semua orang, semua anak didiknya
aku benci karena aku tidak bisa memonopolinya, seperti aku memonopoli Mamih
aku benci karena aku tidak bisa merebut perhatiannya dengan mudah
bahkan aku hampir selalu mempertaruhkan nyawaku dulu baru aku bisa mendapat perhatiannya

aku benci ketika ia bekerja keras
terkadang aku mengatainya penjilat
aku begitu bencinya karena aku tak bisa memiliki waktu luang yang banyak bersama dia
aku benci waktuku bersamanya direbut oleh pekerjaan
aku benci dinomer sekiankan oleh pekerjaannya yang menumpuk

aku benci ketika dia membanggakan dirinya seolah dia ayah yang sempurna bagiku di depan banyak orang
padahal waktu untuk bersama pun tak sebanyak itu
padahal perhatiannya padaku hampir tak pernah nampak
aku benci ketika kesempurnaannya hanyalah kata kata belaka
aku benci karena aku tak mendapatkannya secara nyata
aku benci memohon padanya agar hanya melihatku saja
aku tak bisa bilang "lihat aku, jangan lihat anak lainnya"

tapi rasa lelahnya
keterbatasannya sebagai seorang ayah
membuatku menangis
menyesali bahwa terkadang aku meragukannya
menyesalinya bahwa aku terkadang masih sangat membencinya
padahal ia habiskan lebih dari separuh hidupnya untuk bekerja
berusaha untuk membuatku hidup nyaman
berusaha untuk mengalihkan perhatiannya agar aku tidak merasa lemah dalam sakitku oleh perhatiannya
meskipun nanti aku mungkin masih akan membencinya, hanya aku yang boleh membencinya
meskipun nanti dia akan membuatku menangis lagi, hanya dia yang aku perbolehkan membuatku menangis
satu satunya pria yang boleh membuatku menangis, kesal dan marah
satu satunya pria yang akan aku cintai dengan cara yang berbeda
satu satunya pria yang akan aku peluk sambil menangis dan menumpahkan kejenuhanku tentang hidup bahkan tentang dirinya

terimakasih Tuhan
terimakasih sudah memilih Papih untuk membesarkanku...
:')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar