"Rena...tangan kamu kenapa?? Kamu jangan aneh-aneh, nak..." Ibu meneteskan air matanya lagi. Entah ini yang keberapa kali. Dengan lembut ibu mengobati lukaku.
"Ibu baik-baik aja?" tanya Rena kecil dengan wajah yang paling dibenci Bapak. Mematung dan menangis.
"Ibu nggak apa-apa. Tadi Bapak cuma lagi kesal. Jadi ribut sedikit." hibur Ibu, aku tau itu bohong.
Tak hanya sekali dua kali rumah riuh seperti perang dunia. Bapak memerang dan mulai menghancurkan apa yang ada di rumah ke arah Ibu. dan Ibu hanya bisa menangis. Sedangkan aku? Aku hanya bisa menghadap tembok kamar dan melukai diri merasakan sakit hati Ibu. Semua membuatku sakit untuk tersenyum. Sakit sekali.
Namun sejak aku SMP, Bapak meninggal. Entah apa yang merasukiku saat Bapak hendak mendorong Ibu dari balkon atas. Pisau buah dengan mulusnya ku tancapkan persis di dada Bapak. Aku tak kuat. Aku ingin Ibu berhenti menangis. Ingin sekali.
Ibu memelukku erat sambil menangis histeris dan berjanji untuk melindungiku. Dan di pemakamannyalah aku bisa tersenyum. Aku bahagia.
Sakit hati ternyata tak hanya di rumah saja. Bony mulai menguasai hatiku. meski kami tak pernah berbincang terkecuali dia menanyakan pelajaran padaku. Entah mengapa keinginan menguasainya begitu keras. meskipun aku tau Karin memilikinya sudah hampir dua tahun.
Benci sekali saat melihatnya berdua. Benci sekali. Sekali dua kali ku lukai diriku. Pinsil ku raut tajam dan leganya saat ku tusukkan ke telapak atas tanganku. semua seakan ringan di kepalaku meskipun setelahnya ku dengar jeritan ngeri anak sekelas.
tak hanya sekali itu. Kejadian seringkali terulang dan aku membuat Ibu menangis lagi. Aku ini berdosa. tapi aku tak tau harus apa.
"Rena...Ibu sayang sekali sama Rena. Jangan sakiti diri kamu lagi ya, nak...Ibu tidak mau kamu sakit seperti ini lagi. Bilang sama Ibu, siapa yang buat kamu begini? Biar ibu yang nasihati, jangan sakiti diri begini, nak..."
Dosa! Tak seharusnya aku buat Ibu menangis begini. Aku benar-benar terlihat seperti Bapak dulu! Aku tak mau!
Menjelang ujian kenaikan, kami mengadakan kunjungan ke museum di kota. Museum di mana dulu Bapak sering mengajakku untuk melihat dan mempelajari senjata-senjata tajam zaman dulu. Sepintas mengenang memori dulu, aku tak sengaja melihatnya mencium Bony. di depan mataku. Aku mendekati mereka. Entah kenapa lagi, Karin seketika menjerit ngeri padaku, terduduk lemah dan memeluk erat kekasihnya yang kini di dadanya tertancap sempurna samurai dari tanganku.
"Bony, terima kasih, sekarang pasti Ibu bisa tersenyum lagi melihatku, dan aku tak perlu lagi melukai diri ini. selamat jalan, sampaikan salam pada Bapak..."
Aku bisa tersenyum lagi. Dan ini senyuman bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar